Berita tentang Komunitas Foto BIKETOGRAPHY di Kompas.com.

Berita tentang Komunitas Foto BIKETOGRAPHY di Kompas.com…
http://regional.kompas.com/read/2010/01/23/07211858/Biketography..Gowes.Campur.Fotografi..

“Biketography”, Gowes Campur Fotografi
Sabtu, 23 Januari 2010 | 07:21 WIB

KOMPAS.com — Bersepeda bagi sebagian orang sangat menyenangkan. Namun, hobi itu kurang lengkap jika tidak diabadikan. Komunitas biketography memadukan kedua unsur fun itu, berpetualang dengan sepeda sekaligus mengabadikannya dalam bentuk foto.

Tapi, jangan buru-buru Anda melabeli mereka dengan cap narsis. Di kamus mereka, yang didokumentasikan bukan melulu tentang diri dan komunitasnya, melainkan lebih ke kegiatan, obyek-obyek atau fenomena yang terjadi di khalayak.

Seperti Jumat (22/1/2010) pagi, sekelompok biketography dan pesepeda dari komunitas Kelompok Pengendara Sepeda Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) baru saja menyisir perkampungan kumuh di pinggir rel kereta Kiara Condong.

Dengan kameranya, mereka memotret fenomena sosial yang jarang terekspos media sekalipun. Dengan sepedanya, mereka bisa melakukan penetrasi lebih ke dalam di lingkungan itu, sekalian juga berolahraga. Ibaratnya, menyelam sambil minum air.

“Dari perjalanan yang singkat ini, kami mendapatkan pengetahuan yang tidak biasa. Kami lihat, bagaimana warga di sana (pinggir rel) terpaksa menjemur baju di pinggir rel dan bersama-sama makai MCK. Lahan terbuka kian terbatas. Dengan sepeda, kami bisa menjangkau lebih ke dalam,” tutur Ade Katim (40), anggota Biketography Bandung.

Hobi bersepeda sambil berfotografi turut mengantarkan Ade menekuni pekerjaan barunya, foto wedding. Padahal, Ade sebelumnya tidak memiliki, baik latar belakang maupun minat terhadap fotografi. “Di sini (biketography), kami bisa saling belajar tentang fotografi, bahkan belajar tentang kamera analog, misalnya,” tutur karyawan Gendhis Photography ini.

Arta Sutapratama (23), anggota biketography lainnya, merasakan sensasi yang tidak biasa dari hobi barunya ini. Seru, foto-fotonya adalah aktivitas warga Bandung pada malam hari sambil bersepeda. “Emang sih, hasil (gambar) sering tidak jelas, misalnya cahaya lampunya aja yang terlihat memanjang. Tapi, inilah sensasinya,” ujar Arta yang kerap menggunakan kamera digital Sony Cybershot ketika berburu obyek foto.

Jika mayoritas anggota biketography memilih cara yang simpel, menggunakan kamera pocket atau digital, maka lain halnya dengan Moto (42). Dosen Unjani ini kerap menggunakan kamera jenis analog, salah satunya merek Super Ikonta klasik buatan tahun 1920-an dengan film berukuran 120 milimeter.

Yang bikin seru ada suspend-nya. Ada perasaan tegang saat menunggu hasil saat dicuci. Kadang, hasilnya itu penuh kejutan, di luar dugaan. Yang seperti ini sulit didapat di kamera digital,” ujar Moto yang memiliki koleksi belasan kamera digital dari berbagai merek ini.

Moto sangat gemar menangkap obyek lanskap, misalnya gedung-gedung tua atau herritage di Bandung. Menurut dia, Bandung memiliki banyak obyek herritage yang bagus. Namun, sayangnya, mayoritas bangunan itu tidak terurus. Ia mencontohkan kawasan Braga. Kondisi ini berbeda dengan di Jakarta dan Semarang. (Yulvianus Harjono)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: