IMAJINASI ANAK DALAM MEDIA FOTOGRAFI

“Banjir” (c) Keefe – Anak 9 Tahun

(c) “Teman Seperjalanan” (c) Astri – Anak 15 Tahun

“Imajinasi Anak Dalam Media Fotografi”
Kata Pengantar Kurator pada Pameran karya para fotografer cilik (BIDIK Fun Photography for Kids)
oleh Asep D. Iskandar

Fotografi sebagai buah teknologi dengan serta merta mengalami pertumbuhan yang pesat. Inovasi dalam bidang fotografi yang bermula dari keinginan manusia untuk menciptakan representasi dan realitas dengan lebih akurat secara umum telah tercapai. Sisi dari teknologi fotografi yang bermula dari kamera obscura yang sederhana sampai kamera digital sangat mempermudah pekerjaan manusia dalam hal mereproduksi bentuk objek secara nyata, detail dan gambar yang “seindah warna aslinya”. Hal inilah yang kemudian menjadikan kamera fotografi dipandang sebagai media rekam yang paling akurat.
Perkembangan teknologi kamera yang terus menerus digulirkan oleh para produsen ternyata semakin memudahkan manusia dalam mengoperasikannya, sehingga dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk memiliki kamera dan menggunakannya untuk berbagai tujuan. Perkembangan teknologi yang tiada hentinya ternyata berimplikasi semakin dimanjakannya para pengguna apalagi dengan kemunculan kamera yang menyatu dengan telepon genggam (handphone). Kamera kemudian menjadi kebutuhan penting untuk merekam diri sendiri atau peristiwa yang dialaminya. Kemudahan mengoperasikan kamera menjadikan anak-anak saat ini tidak akan kesulitan mengabadikan setiap objek yang ditemuinya. Citra yang terekam hasil pemoteretan anak adakalanya di luar dugaan kita bahkan dapat dikatakan begitu menakjubkan.
Kesan takjub itu muncul ketika memandang serangkaian karya foto yang dibuat oleh para fotografer cilik berusia 8 – 15 tahun. Ketakjuban itu muncul tidak lain hasilan perekaman yang mereka buat secara teknis dan konvensi telah terpenuhi dengan baik. Konvensi yang dimaksud berkisar pada urusan sudut pandang termasuk di dalamnya pengaturan komposisi, pengolahan intensitas cahaya dan pengaturan kecepatan. Walaupun ada yang berpendapat bahwa di antara karya foto mereka dianggap kurang sempurna sangatlah wajar karena melalui pandangan konvensi tadi. Namun, jika perbincangan melulu pada persoalan konvensi barangkali kita harus melihat realitas bahwa anak-anak kita pun sudah dapat memotret dengan baik.

KETIKA ANAK-ANAK MENGGUNAKAN KAMERA
Melihat enampuluh karya foto dari para fotografer cilik dalam pameran ini setidaknya membuka mata kita bahwa revolusi kamera mampu menumbuhkan dorongan kreativitas pada diri anak-anak. Manakala anak diajarkan kesempurnaan visual, teknik pemotretan dan komposisi maka akan turut berpengaruh pada citra yang dihasilkan. Citraannya kemudian menjadi terlihat sempurna karena pengetahuan mereka tentang teknik pemotretan telah mereka pelajari. Representasi realitas tersebut adakalanya keluar dari konvensi yang seolah menjadi baku bahkan cara pandang mereka terhadap objek menjadikan visual yang menarik. Dalam tatanan konvensional citra yang terbentuk pada bidang gambar merupakan hasil dari kumpulan teknik yang benar-benar logis, mulai dari teknik pencahayaan dan pengaturan subjek yang direkam. Dengan kata lain karya-karya mereka dalam konteks estetika tidak kalah dengan yang dibuat oleh orang dewasa.
Karya foto yang dibuat Wiliam berusia 9 tahun misalnya, secara kasat mata visualnya mencapai kesempurnaan dengan menggunakan teknik zooming. Dengan menggunakan kamera pocket Wiliam mencoba teknik zooming dengan cara menarik kamera yang dipegangnya ke belakang. Dalam hal penghadiran objek (subject matter) dalam gambar justru menunjukkan kepekaannya terhadap pemilihan subjek. Kepekaan tersebut didorong dari rasa keingintahuan dia dalam memotret sehingga apapun objek yang hadir di pelupuk matanya pasti dipotretnya. Melihat karya-karyanya menunjukkan ciri seorang anak yang mempunyai dorongan bermain sangat kuat. Dalam kategori inilah kekentalan pada dorongan bermain dan sudut pandang anak menjadi lain ketimbang pengertian fotografi secara konvensional.
Karya foto yang dianggap kurang sempurna oleh orang dewasa justru merupakan ciri perkembangan merekam setiap subjek pada anak. Ketika anak memotret yang muncul keliaran berimajinasi atau eksplorasi yang adakalanya tidak terpikirkan oleh orang dewasa. Hasilannya sudah tentu di luar dugaan terutama pada anak berusia 10 tahun. Dalam perkembangan menggambar biasanya pada usia tersebut kerap muncul suatu kesadaran terhadap ruang, waktu dan kamera kemudian menjadi media bertutur. Kelugasan bertutur nampak pada karya bertajuk konstruksi yang dibuat oleh Pipin berumur 10 tahun dengan citraan yang memperlihatkan adanya kesadaran tentang tinggi. Apa yang dilihatnya secara realitas akan direpresentasikan melalui gambar dengan lebih rinci. Dalam konteks fotografi, anak akan merekam subjek berdasarkan sudut pandang dirinya sesuai dengan realitas. Ketika Pipin melihat robot kecil berbentuk tiang tinggi yang sering disaksikannya di proyek Ruko Balubur maka dia memutuskan mengambil sudut pengambilan dari bawah. Lebih lanjut dia menuturkan bahwa keriuhan rangka-rangka besi yang menjadi latar belakang dibiarkan jelas karena dianggap menyatu dengan objek.
Gambar yang dihasilkan selain representasi dari imajinasinya juga menyuguhkan catatan peristiwa. Kamera kemudian diperlakukan sebagai media bertutur bagi dirinya dengan hasilan untuk diperlihatkan atau diceritakan kembali pada orang lain. Foto bertajuk Air yang dibuat Keefe berumur 9 tahun memperlihatkan seekor kumbang mainan di antara gelembung air yang menggenanginya. Pada saat pemotretan Keefe berimajinasi tentang banjir yang kerap terjadi manakala musim hujan tiba. Dengan lugas dia menuturkan bahwa kumbang merupakan representasi korban yang terendam air. Gagasan tersebut muncul ketika mempraktekkan pemotretan dengan komposisi rule of thirds. Secara kasat mata barangkali gambar dapat dianggap sempurna bila dilihat dari cara pengaturan objek dalam bidang gambar.
Pada beberapa karya foto yang dipamerkan memperlihatkan keberanian anak yang keluar dari konvensi yang selama ini kita kenali. Kebebasan anak tanpa dipenjara oleh konvensi-konvensi yang ada terlihat pada karya Astri yang saat ini berumur 15 tahun. Keleluasaan bertutur lewat visual ia tampakkan melalui penggambaran sepasang sepatu yang terpotong secara ekstrim. Sepatu tersebut menginjak lantai tegel bermotif sekaligus menjadi latar belakang merupakan cerita kehadirannya di suatu tempat. Sepatu kesayangan dia yang dihadirkan dalam foto merupakan bentuk narsisme yang direpresentasikan melalui citra alam benda (still life). Narsis menurutnya tidak hanya menampilkan diri atau ”self portrait” seperti yang dilakukan kebanyakan orang namun dapat divisualkan melalui benda-benda yang dipakai.
Kebebasan dari pengaruh konvensi nampak juga pada karya yang dibuat Nurul berusia 15 tahun. Gambar tersebut memperlihatkan seorang wanita dengan tubuh hitam karena ketiadaan cahaya dari arah depan sehingga menjadi siluet. Sosok wanita tersebut berdiri membelakangi langit luas dengan cahaya matahari terbenam yang menyisakan warna kuning kemerahan. Kepala perempuan yang menengok ke ruang sempit justru sangat berlawanan dengan aturan baku yang dia terima dari gurunya. Melalui visual yang disuguhkan oleh Nurul kita diajak untuk membaca teks atau narasi yang ada di balik karyanya itu sendiri. Dengan visual dia bertutur tentang kesendirian dan kesepian yang dialami walaupun diaduk dengan teknik memadai hingga menghasilkan visual yang menarik.

BELAJAR DARI IMAJINASI ANAK
Enampuluh karya yang terpajang walaupun sebagian besar memperlihatkan bentuk visual yang baik namun dalam perspektif orang dewasa adakalanya dianggap belum mencapai kesempurnaan. Citra kodok yang terhalangi oleh rumput misalnya, dianggap mengganggu secara visual karena menghalangi. Dalam benak anak berumur 9 tahun seperti yang dibuat oleh Farhan, rumput belum tentu dianggap menghalangi karena yang lebih penting adalah daya tutur yang dapat diceritakan pada orang lain. Di sinilah nampak kebebasan anak dalam berimajinasi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk gambar tanpa terpengaruh oleh konvensi yang ada. Setidaknya dalam konteks tersebut secara visual terlihat adanya konstruksi yang utuh antara bentuk visual yang indah itu dengan isi yang dituturkannya. Daya tutur dan dorongan bermain inilah adakalanya tidak nampak pada diri orang dewasa kerena kerap dibatasi dan terperangkap konvensi yang diketahuinya.
Dari suguhan karya-karya tersebut tentunya kita dihadapkan pada suatu realitas bahwa perupaan dalam fotografi tidaklah terbatas. Karya-karya yang dipamerkan setidaknya memperlihatkan keterbukaan dan meniadakan batas yang selama ini dianggap membentengi diri terutama pada citraan naturalis atau kemampuan dalam merekam realitas. Realitas yang disuguhkan pada keseluruhan karya setidaknya dapat memberikan daya gugah sehingga menjadi pendorong “kebebasan” dalam berekspresi. Gaya perupaan yang disajikan pada setiap karya menyodorkan pula daya gugat dalam perkembangan media fotografi. Daya gugat yang disodorkan pada tatanan konvensional yang masih dibatasi oleh sisi keindahan bentuk visual sedangkan persoalan isi di balik karya itu sendiri masih terabaikan. Semua karya dengan gaya perupaan yang dianggap telah keluar dari konvensi lamanya justru menjadi daya tarik tersendiri, memberikan kesegaran, dan membuka cakrawala baru khususnya bagi para fotografer dan pegiat yang menekuni bidang fotografi.
Itulah daya tarik, kesegaran dan hangatnya semangat anak-anak di dalam pameran yang sedang berlangsung. Catatan ini dengan sadar menghindari pendekatan tematik bukan berarti tidak penting. Hal tersebut berdasarkan pada hal teknik dan teknologi kamera yang sedang hangat diperbincangkan dan kerap didiskusikan di dalam kepala. Kedua hal tersebut barangkali menjadi pemikiran kita karena secara teknik dan teknologi kamera telah mendorong anak-anak kita untuk berekspresi dan melakukan eksplorasi dengan objek. Bravo kawan-kawan muda fotografer cilik Bidik Bandung.

“Pameran Foto ini berlangsung dari tanggal 5-11 Februari 2010 di Papyrus Photo Jalan Bengawan No 29 Bandung”

  1. Tulisan na alus mang asep deni…sip ah.

    • aditya made
    • February 8th, 2010

    9 years old?!
    cool!

    • Putrisaninda
    • February 8th, 2010

    aawwww Astri’s photo is so cool. proud of you, cousin :))

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: