EKSOTISME SERI KARTU POS WISATA VAN BANDUNG

(c) Deni Sugandi

Geliat Apo Damidi menyikapi wisata Jawa Barat

Oleh Deni Sugandi

“Kalau gambar gedung Preanger, Savoy atau Alun-alun Bandung itu kurang laku. Apalagi gambar pemandangan yang belum dikenal, karena turis belum banyak mengenal tempat itu” Kalimat yang meluncur dari Apo Damidi, mencairkan obrolan kami tentang usahanya menerbitkan kartu pos dengan modal sendiri. Pada akhirnya kita pun turut menyaksikan, media promosi ini tenggelam seiring dengan perkembangan teknologi digital, elektronik mail!

Peluang bisnis kartu pos tahun 1987-1988 yang dilakoni Apo Damidi ini, bukan hal yang baru. Sudah sejak lama dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu*. Tentus saja untuk menyampaikan pesan promosi wisata dan keberhasilan pembangunan wilayah kolonial. Penggunaan kartu pos, atau materi penyampai pesan lainnya; brosur dan buku panduan wisata adalah bagian dari cara pandang populer masa itu. Buku panduan wisata tersebut sebagian besar diterbitkan ielh sebuah badan resmi pemerintah yang mengurusi promosi turisme di hindia-Belanda, Officieel Vereeniging Toreistenverkeer Bereau (disingkat VTV) Badan turisme ini didirakan pada tanggal 13 April 1908 di Batavia, dengan besluit yang ditanda tangani oleh Gubernur Jenderal Van Heutsz. Berbekal aturan ini pemerintah Hindia-Belanda mengatur (atau memonopoli) kemana saja para turis harus berkunjung dan objek apa saja yang harus dilihat. Oleh karena itu, mereka memerlukan foto-foto berkualitas yang dapat menunjang buku panduan wisata, brosur dan kartu pos yang mereka terbitkan. (Achmad Sunjayadi, Wacana Vol. 10 No. 2, Oktober 2008, 310)

(Sudarsono Katam, Oud Bandoeng Dalam Kartu Pos, Khazanah Bahari, 2009, 38) Berdasar temuan pada kartu pos yang dikumpulkan** dan dari berbagai literatur, produsen kartu pos bergambar Bandung yang pernah diterbitkan oleh produsen yang berkantor pusat di Bandung antara lain: Mij. Vorkink, A.C. Nix & Co., J.R. de Vries & Co., L.A. Lezer, J.C. Becker, Kawai & Co., Fotohuis Braga, Mask & v.d.Klits, dan Ang West. Produsen kartu pos bergambar Bandung di kota lainnya adalah: Nederlands Zending Vereeneging (Rotterdam, Nederland), J.B. Obernetter (Munich, jerman), J.M. Chs. Nijland & Co. (Surabaya), G.J. de Kruiff & Co. (Buitenzorg-Bogor), C.St. Eneret, Tosari Studio. O. Th. S., I.A.G., DruyfD’Hollosy.

*Sejatinya, negeri Belanda pertamakalinya menerbitkan kartu POS pada tahun 1871, yang disebut Briefkaart. Beberapa tahun kemudian, pemegang kekuasaan Hindia-Belanda menerbitkan kartu pos tahun 1874. Kartu pos tersebut sudah beserta prangko yang dicetak langsung dengan nominal 5 sen (dalam lima versi), 5 tambah 5 sen (dua versi kartu pos ganda yang terlipat untuk balsan berita, terlipat dibagian kiri atau terlipat di bagian kanan) dan 12,5 sen. Ukuran kartu pos pada masa itu (1874-1942) bervariasi dari tahun ke tahun (122×87, 140×90, 147×105, 150×100 dan 150x110mm) disesuaikan dengan ketetapan ukuran kartu pos yang dikeluarkan oleh Universal Postal Union atau UPU (Sudarsono Katam, “Out Bandoeng dalam kartu pos” 2009)

(denisugandi@gmail.com)
Tulisan ini untuk merangkai sejarah fotografi Bandung dan 200 tahun Bandung

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: