MEREKAM SEJARAH, MENAFSIR MAKNA

“Kurator Pameran Agus Bebeng” (c) Gerbang Stikom Bandung

Kata Pengantar Kurator Pameran POTRET INDONESIA karya BIDIK Photography STIKOM

Oleh Agus Bebeng

“Merekam Sejarah, Menafsir Makna”

Berbicara tentang Indonesia, adalah “melihat” sebuah pementasan tanpa babak yang menyuguhkan beragam cerita dan peristiwa. Babak demi babak terus berlanjut tanpa jeda, dengan cerita yang mengharu biru. Tak pelak, setiap hari kita dirangsang dengan menu persoalan dari dapur informasi yang tak sedikit pun memberi pilihan tuk bernafas. Lalu, tanpa disadari kita masuk ke pusaran ke-Indonesiaan yang menggiring kita terlibat dan bersetubuh di dalamnya.

Menelisik Indonesia lebih dalam seperti menyaksikan kilasan cerita usang yang tak lekang. Ada berbagai peristiwa dari pelbagai tempat dengan cerita yang sama. Keranda airmata, seolah tak pernah usai mengalirkan kesakitan dari mata-mata kaum marjinal yang dipinggirkan karena kondisi yang memaksanya.

Pencitraan Indonesia karya dalam ranah fotografi, memiliki kesamaan dengan karya lain. Namun hal terpenting dalam fotografi tiada lain adalah kemampuan merekam sejarah dengan kecepatan rana sepersekian detik. Proses itu mungkin tidak disadari para pemotret, akan tetapi ketika ditelisik akan memberi kedalaman makna. Pun halnya dalam karya yang hadir saat ini ke pembaca foto. Ada beragam emosi yang menyeruak memasuki ruang tafsir setiap orang; yang tentunya akan didapatkan apabila melihat foto-foto tersebut dengan kedalaman rasa.

Namun di balik peliknya kenyataan yang menelikung, masih tersimpan harapan yang menyeruak, memukul genderang kebahagiaan. Mungkin itu setitik gambaran ketika berinteraksi dengan deretan foto “Potret Indonesia” yang diwartakan komunitas Bidik Photography.

Sejatinya, ketika berbicara Indonesia, tentu tidak bisa diwakili dengan kehadiran 50 foto semata. Mungkin lebih dari itu; atau mungkin tidak akan pernah diselesaikan dengan berjuta foto lainnya. Karena Indonesia adalah negeri dengan sekeranjang tanda tanya besar yang penuh labirin persoalan tak usai. Namun sebagai bentuk pengungkapan kabar, kiranya 50 foto ini bisa menjadi telaah dan bahan diskursus tanpa jeda, ketika melihat satu sisi Indonesia yang tertangkap dalam lensa mereka yang seadanya.

Banyak hal yang bisa diungkap dari kesederhanaan foto anak-anak Bidik yang baru berkenalan dengan kamera ini. Keberanian membekukan peristiwa yang simpangsiur dan memerlihatkannya kepada khalayak luas, tentunya merupakan sebuah keberanian. Hal ini tentu tidak mudah bagi fotografer pemula yang masih malu-malu berkencan dengan karyanya di ruang publik. Ada beragam rasa takut dan ketertekanan psikologis yang menyertai mereka. Karena bagaimana pun mereka belum mampu menyatukan kesemestaan dalam pikiran dan kamera yang mereka bawa.

Akan tetapi ketika proses rekonstruksi hadir dan menjelma menjadi karya fotografi, Karya itu sudah mandiri dan berlaku sama pada setiap fotografer. Melepas batas dari koridor pemula atau profesional, karena momentum fotografi bukan hanya an sich milik kaum pemotret ulung. Acapkali dari tangan pemula hadir karya yang menggelitik sisi sensibilitas estetik. Kelahiran karya yang demikian biasanya hadir dari proses yang jujur.

Kejujuran menjadi sangat penting dalam berkarya, karena kejujuran menjadikan karya memiliki makna yang lebih. Daripada keindahan karya tersebut hasil dari manipulasi digital kamar terang. Seluruh karya yang ada tidak banyak mengalami perubahan editing karena pendekatan Bidik Photography adalah belajar memotret dengan perspektif jurnalistik, sesuai dengan kurikulum kampus yang menitik beratkan pada pembelajaran jurnalistik.

Terlepas dari hal di atas, hal terpenting dari pameran ini sebenarnya bukan pada hasil akhir dalam bentukan foto. Namun yang lebih penting dari itu adalah adanya pembelajaran para anggota Bidik agar mampu menangkap kegelisahan. Tanpa sedikitpun merubah kenyataan! Karena membiarkan kamera “berbicara” apa adanya, akan mengabarkan kondisi yang terjadi sesungguhnya. Seperti halnya ucapan Elton John yang berkata “Camera never lies”.

Terakhir…
Tak ada kata berhenti untuk merekam peristiwa dan menjadikannya sejarah.
Memupuk kegelisahan dan bekubang dalam realitas adalah faktor utama menjadi fotografer.
Dan, mari kita berdo’a semoga Tuhan tidak mematikan kreativitas kita…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: