ARTIKEL BERITA PAMERAN FOTO SAMAR KARYA ANDRI KRISDIANTO

(c) detikBandung

Artikel Berita Pameran Foto “Samar” karya Andri Krisdianto di detikBandung (Senin, 15 Februari 2010)

http://bandung.detik.com/read/2010/02/17/085134/1301079/682/membaca-fotografi-buram

Bandung – Dalam seni, sah-sah saja ada inovasi dalam bentuk apapun. Meski itu harus keluar dari jalur aturan baku yang umum di mata publik. Andri Krisdianto, fotografer muda asal Bandung mencoba menampilkan beragam visual yang tidak biasa. Tak jelas, muram, pudar, abstrak, juga samar.

“Samar, Terkadang Samar Itu Jelas”, demikian judul yang diambil Andri dalam pamerannya di Galeri Esp’Art CCF Bandung, Jalan Purnawarman. Bagi penikmat foto, sebanyak 24 karya Andri akan memberikan pandangan baru tentang fotografi. Bahwa foto ‘tak selalu begitu’.

Tak harus digambarkan utuh, tak masalah si objek menjadi muram atau menjadi sesuatu yang abstrak. Misalnya potret yang menampilkan bayangan, setengah badan, foto objek tanpa kepala, atau hanya bagian kaki saja.

Memang bukan hal baru. Diakui Andri, sebelumnya tekhnik ini sudah digelutinya bersama rekan-rekan sesama penggiat foto. Tapi kali ini dia memberanikan diri untuk menggelar pameran tunggal pertamanya.

“Potret-potret ini visualisasi dari prosa dan puisi,” ujarnya di sela-sela pembukaan pameran, Senin 15 Februari 2010. Setiap judul terinspirasi dari kalimat yang dipungutnya dari puisi karyanya atau lirik lagu.

Dalam setiap potretnya, Andri menggunakan model tunggal. Dengan sentuhan digital yang kental, karya ditampilkan dalam warna monotone, dualtone dan saturasi rendah.

Di mata Galih Sedayu, penggiat fotografi dari Air Photography, pameran Samar ini memang beda dibandingkan pameran fotografi lainnya. “Teknis dikesampingkan, memang harus berani untuk seperti ini,” tutur Galih ditemui di acara yang sama.

Di sini, lanjut Galih, Andri juga memanfaatkan teknologi photoshop dan tone warna yang unik sebagai ciri khas. Namun Galih menyayangkan tidak adanya kejelasan apa yang ingin disampaikan sang fotografer. Pesan yang ingin disampaikan tidak secara jelas terepresentasikan lewat karya-karya tersebut.

“Secara keseluruhan belum diketahui maksudnya apa?,” tuturnya.

Selanjutnya Galih menyanyangkan ketiadaan kurasi yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara penikmat dan karya yang dipamerkan. Agar pameran ini maksudnya menjadi lebih jelas. (ema/bbn)

    • Irwan Hakim
    • February 28th, 2010

    Wah..ini foto saya looh..hahaa

  1. Wah…kalo irwan jadi model minta bayaran sama detikBandung donk. hehe..
    -gals

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: