EKSOTIS: KATA YANG SERING DIPAKAI TAPI TIDAK KITA PAHAMI

EKSOTIS: KATA YANG SERING DIPAKAI TAPI TIDAK KITA PAHAMI

Dalam berbagai kesempatan, saya seringkali mendengar atau membaca kata ‘eksotis’ diterapkan. Mulai dari aktivitas rumahan, pendidikan, hingga iklan. Dalam suatu kesempatan presentasi karya (video) akhir tahun lalu, penyelenggara memberi judul “Exotic Mentawai” untuk presentasi itu. Suatu hal yang sangat saya tidak setuju karena apa yang disajikan bukanlah suatu eksotika, juga karena pandangan ideologi saya akan kata ‘eksotik’ itu sendiri.

Untuk mengetahui apa itu ‘eksotis’, sebaiknya kita membuka kamus. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI 1976), eksotis didefinisikan sebagai: asing; jarang dapat (aneh, ganjil, luar biasa); garib; mis: banyak orang asing merasakan pertunjukan wayang sebagai sesuatu yang eksotis.(KUBI, 1976: 268). Sedangkan menurut Microsoft Encarta Dictionary 2009, kata exotic (adjective) didefinisikan sebagai strikingly different: strikingly unusual and often very colorful and exciting or suggesting distant countries and unfamiliar cultures. Dalam tesaurusnya, exotic (adjective) adalah: 1. unusual, out of the ordinary, striking, interesting, bizarre, mysterious, glamorous, colorful, outlandish, strange, different, exceptional. antonym: ordinary 2. from abroad. from abroad, tropical, alien, foreign antonym: familiar

Dengan memperhatikan definisi/batasan kata dari kamus dan tesaurus di atas kita bisa mendapat pemahaman tentang apa sih eksotika itu sebenarnya. Eksotika ternyata sangat berhubungan dengan cara pandang orang kulit putih (baca: Barat) dalam menilai dan memandang sesuatu yang mereka anggap tidak familiar dengan kehidupan mereka sehari-hari. Sebagai suatu keganjilan, keanehan di dunia tropis (ingat Indonesia berada di wilayah tropis!), dan sangat terasing.

Apa yang mereka rumuskan dalam kata eksotik itu kemudian kita telan utuh tanpa pernah berusaha untuk memahaminya dalam cara pandang timur-barat. Sebagai suatu bangsa yang besar dan beragam, serta kekayaan alam yang sangat banyak, kita dianggap sebagai ‘sesuatu yang asing; alien’ oleh peradaban barat. Celakanya, banyak di antara kita yang mengenyam pendidikan kemudian menelan mentah semua itu, mengaminini setiap kata yang dijejalkan, dan mengubahnya menajdi identitas kita.

Saya percaya bila memang ada upaya upaya politik pengaburan identitas agar kita lupa pada kekhasan budaya kita, pada identitas kita. Melalui pendidikan, tontotan televisi dan film, ideologi berkesenian tertentu, perlahan-lahan kita dicabut dari peradaban dan identitas kita sendiri.

Jejak-jejak itu, masih tampak dalam wilayah fotografi kita yang masih didominasi logika fotografi salon. Sebagaimana kita tahu, fotografi salon lahir di Indonesia pada era kolonialisme Belanda. Melalui agensi fotografi Woodbury and Page, dicitrakanlah Indonesia (Hindia Belanda) dalam foto-foto dengan label eksotis, yang disebarkan ke seluruh Eropa dalam bentuk foto kenang-kenangan (carte de visite),kartu pos, dan buku foto/photo book. Hal tersebut semakin dikukuhkan saat harga peralatan fotografi semakin murah dengan datangnya produk Kodak Brownie ke Hindia Belanda. Fotografer amatir bermunculan, bahkan terbit juga majalah khusus Fotografi ‘De Camera’ yang mengutamakan dogma estetika yang tinggi. Dogma estetika tinggi ini juga yang hingga kini masih menguasai benak para pelaku fotografi Indonesia. Mulai dari pelaku, industri, konsumen, dan pasar, kerap kali mengutamakan dogma ini. Dogma ini juga kerapkali menggunakan kata eksotis yang diterapkan pada foto-foto dengan konten komunitas masyarakat adat/lokal, perempuan-perempuan berwajah asia (asiatic), hingga pesona alam tropis.

Dalam dunia seni lukis, sejarah ribut-ribut aliran lukisan Mooi Indie tentu tidak boleh dilupakan. Karena pada aliran itulah Indonesia selalu digambarkan sebagai negeri yang cantik, aman,sentosa, dan sejahtera, yang tentu saja menarik banyak perhatian dan keinginan bangsa lain untuk memiliki (dan menjarahnya)

Di sinilah timbul permasalahan sebenarnya, karena kata eksotis tersebut, kita terapkan juga untuk menilai foto-foto yang sebetulnya berisikan citra masyarakat kita sendiri. Sebagai sesama orang Indonesia yang hidup di alam tropis, kita dengan mudah memberi label kata ‘eksotis’ pada foto-foto tentang diri kita sendiri. Dengan ketidaktahuan (atau ke-tidak ingin tahu-an?) kita memberi label pada diri kita sebagai ‘asing, alien, tidak familiar, sangat berbeda’.

Penjajahan itu masih berlangsung ternyata. Dulu kita dijajah dan diperebutkan bangsa Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang secara fisik, kini kita dijajah melalui kata ‘eksotik’. Celakanya, yang menjajah adalah diri kita sendiri. Kita bahkan tidak bisa bersahabat dengan saudara kita sendiri yang masih satu negara, satu wilayah kesatuan, serta satu panji-panji hanya melalui satu kata” eksotik. Kita menjajah saudara-saudara kita dan menaklukkannya dalam foto-foto berlabel eksotis yang kita anggap sebagai trofi kemenangan.

Kita sudah kehilangan sebagian Irian 1) karena Freeport menjadi representasi penjajahan Amerika Serikat di sana. Kita sudah kehilangan Indonesia saat modal asing menguasai jalur telekomunikasi kita melalui kepemilikan saham di operator-operator komunikasi. Kita sejatinya sudah kehilangan kedaulatan saat Jakarta dan kota-kota besar lainnya dikuasai modal asing. Kita juga kehilangan kedaulatan karena kita menjajah saudara-saudara kita sendiri dengan melabeli mereka dengan kata eksotis pada foto-foto yang kita buat. Jadi, masihkah kita mau menilai diri kita sendiri sebagai eksotis?

10 Maret 2010 M/26 Rabiul Awal 1431 H

Ricky N. Sastramihardja
Pecinta Kopi dan Fotografi

http://6ix2o9ine.blogspot.com
==========================

================

1) Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, saya lebih menyukai memanggil Papua dengan IRIAN. IRIAN adalah akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland, yang diberikan oleh Soekarno dalam upaya pembebasan Papua Barat dari Belanda tahun 1969.

Referensi:
1. Michael Risdianto. Kantor Berita Foto Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) 1946-1980: Studi Tentang Dinamika Institusi Fotojurnalistik di Indonesia. Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Tidak Dipublikasikan.
2. Yudhi Soerjoatmodjo. The Challenge of Space : Photography in Indonesia, 1841-1999.Tempo, 16 Januari 2000: 172). Dapat dibaca secara online di: http://www.angelfire.com/id/mosista/article1.html
3.Jurnal Kebudayaan Kalam edisi 2 – 1994.
4. W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen P dan K. PN Balai Pustaka: Jakarta.
5. Microsoft Encarta 2009 Dictionary versi 16.0.0.1117

  1. Tulisan yang menarik buat menambah wawasan fotografi dan bahasa indonesia kita.

    • Helmi
    • March 16th, 2010

    Ternyata ada juga bahasan fotografi seperti ini. Menarik.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: