KEROYOKAN BIAR RAME; Pameran foto bersama Parasastra, Der’Blitz dan Shashin

Empat hari berturut-turut, 22 hingga 26 Maret 2010, koridor penghubung ruangan kampus, bagian luar, disebut gedung B, untuk sementara beralih fungsi menjadi ajang pameran foto. Beberapa karya ditempel dibagian papan partisi berukuran 1x2meter depan belakang. Sebagian foto lagi ditempel terpisah (empat papan tripleks ukuran 60x60cm) dengan kategori foto tertentu. Ukuran cetak 20x25cm dan 20x30cm, tampak menjadi standar pameran tersebut. Adalah pameran karya bersama mahasiswa, dengan tajuk seperti semboyan iklan caleg “Go! Fight! Win!”

Ruang luar pameran karya keroyokan ini, persis disamping panggung permanen dan menghubungkan gedung kuliah dibagian atas. Bila hujan turun, panitia cukup menggeser merapatkan partisi tersebut pas disamping tembok kelas. Jelas sudah, pajang karya tersebut sangat praktis, mudah digeser.

Total karya yang dipajang adalah 90 karya dari 30 pemotret dengan kompetensi dan jenis kamera yang beragam; mulai dari kamera jenis poket hingga kelas DSLR, baru belajar motret atau yang sudah mahir “yang penting sih kang, ada keinginan dari temen-temen bisa bangkit lagi berpameran” kata Arif, salah seorang panitia. Dari sekian foto yang dipajang tersebut, bisa dikategorikan berdasarkan jenis fotografi pemandangan alam, portrait, close-up, jurnalistik dan satwa. Para pemotret ini berasal dari tiga kelompok yang masih terkait sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Jatinangor, mulai dari angkatan 2006 hingga 2009. Kelompok penyuka fotografi tersebut tidak resmi menurutut catatan Sub Bagian Kemahasiswaan dekanat FASA UNPAD, jadi bukan disebut himpunan mahasiswa. Tentu saja tidak akan mendapatkan “jatah” sumbangan sponsor dana dari pihak fakultas. Semua karya dicetak dengan biaya sendiri dan dipasang bersama-sama. Contoh klasik kegiatan mahasiswa; keroyokan biar rame. Tetapi saya melihat bukan berarti pihak penyelenggara pendidikan belum memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini, entah itu karena pihak mahasiswa tidak bisa berkomunikasi dengan dekanat, yang jelas, kegiatan ini bukan jadwal kuliah, jadi dianggap tidak penting bagi penyelenggara pendidikan.

Tiga kelompok pencinta fotografi tersebut adalah Parasastra (gabungan setiap jurusan di Fasa UNPAD) memajang 10 pemotret. SHASHIN kelompok penyuka fotografi jurusan Jepang 12 pemotret, Der’Blitz himpunan dari jurusan Sastra Jerman 4 pemotret dan luar kelompok ini, individu mahasiswa kampus ini; Atika, Fatia, Hendi dan Yulis.

Seperti sekilas melihat, bisa dikatan ini adalah bukan pameran foto, lebih tepat disebut pajang karya. Syarat tertentu untuk melangsungkan pameran rasanya tidak masuk kategori ini. Tanpa ada kata pengantar, tanpa ada deskripsi, jelas membuat sulit untuk diapresiasi. Bicara teknis penyajian pun, masih kurang perhatian. Foto ditempel di atas styrofoam, ukuran 8x10cm pada media majalah dinding. Untuk urusan kurasi pun tidak ada, jadi menurut saya, ini bukan pameran foto, tetapi pajang karya.

Beberapa foto memang menarik perhatian saya, selebihnya dilupakan begitu saja. Karya Kiki, sebuah karya eksplorasi wajah manusia layak diapresiasi. Begitu pula karya Arief; memotret bayangannya sendiri. Meskipun sering melihat seperti ini, namun kadang selalu menarik; sudut foto dari atas ke bawah, dengan figur bayangan si pemotret di garis pantai. Karya Ryanvin, memotret plang, selintas ide dasar tersebut menarik, menjelaskan arah di areal kampus.

Wajah harimau, dipotong ketat, selintas menyerupai wajah manusia. Karya berhasil menarik perhatian saya, karya Andi Gunawan. Berbeda dengan statemen keras dari Uung, satu frame foto toilet duduk yang kotor, kemudian cat semprot menuliskan kata-kata “Anti Jak” di atas kakus, lengkap dengan garis lurus menunjuk ke bawah, menyatakan anti Jakmania. Berita yang populis dan mudah menarik emosional khusus bagi pencinta persib. Rangkaian foto stori yang berhasil ditawarkan Uung.

Satu catatan menarik. Membandingkan karya Ana Mamoel dengan karya Hendy Dwiprasetyo, sangatlah jelas. Sisi gender sangat menentukan “jenis kelamin kamera”. Karya dengan judul Angel of Death, karya Hendy, tampak membombastis perempuan sebagai obyek komoditas foto, yang ditasbihkan sebagai kegiatan foto model. Seorang perempuan cantik, menodongkan laras senapan paint ball, dengan posisi tiarap, tentu saja sangat mudah memunculkan sensualitas bagian tertentu. Tetapi lain kamera ditangan seorang perempuan. Ana telah berhasil menyeruak masuk dalam batas wilayah privasi model perempuan sebayanya dengan jujur. Ruang batas inilah yang berhasil diintimidasi melalui kamera dengan sukarela. Tentu saja, karya yang muncul adalah adegan yang pasrah.

Saya melihat, geliat kampus dimanapun kini menghadapi persoalan yang sama. Sama-sama dikebiri kegiatan akademis. Seabreg jadwal kuliah membelenggu mereka, membatasi ruang gerak berkegiatan. Menyebabkan dinamika kampus adalah; saya datang, saya kuliah dan saya pulang. Bagi saya kuliah adalah belajar berfikir sistematis dan metodis, mata kuliah dianggap bonus.

Meneropong kegiatan Parasastra yang dibentuk 5 Mei 2006 ini, saya yakin dapat menjawab kegelisahan sebagian kawan-kawannya yang haus apresiasi fotografi di kampus. Mudah-mudahan, semangat Arief, Pras dan kawan-kawan tidak pupus kali ini saja. (denisugandi@gmail.com)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: