DON’T BE ORIGINAL: Diskusi tentang plagiat dalam fotografi. Catatan dari pertemuan diskusi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS, 7 Juni 2010

(denisugandi@gmail.com)

Plagiat atau bukan dalam karya fotografi; topik pembicaran yang akhirnya menjumpai teman-teman dalam forum temu wacana seputar fotografi, yang dikemas dalam diskusi bersama Omong Kosong Sore-sore atau ONGKOSS. Forum yang hendaknya turut menggembirakan wacana dan wawasan fotografi di Bandung, pula menjadi satu-satunya forum diskusi (pertama) yang mengupas dan mengiris tentang kritik fotografi di Bandung kini. Dihadirkan dalam bentuk sarasehan, suasana santai, semua membebaskan dirinya, turut berargumentasi, sumbang opini, bersama-sama belajar turut memperkaya khasanah fotografi. Kini lahirlah, forum diskusi bulanan fotografi ONGKOSS, tampil perdana tanggal 7 Juni 2010.

Tersebutlah, rumah batas gang jalan Pandu Dalam I nomor 4 menjadi saksi. Adalah ruang tamu tempat kerja Dedy H. Siswandi berubah bentuk sementara menjadi ruang pertemuan kagetan. Memang, semua tidak direncanakan jauh-jauh hari, inilah memang semangat forum ini, tidak pernah berencana. Dari serba mendadak, penyebaran hanya lewat groups di Facebook, akhirnya terkumpulah berberapa orang yang turut hadir, diantaranya: Agung, Abri, Fajar R. dari kampus Manajemen Telkom Jurusan Ilmu Komunikasi, dua pewarta foto dan tulis; Benny dan Roni dari pramuka.com, Tirta T, Eki Akhwan penulis aktif di bandungdailyphoto.com, Dedy H.Siswandi narasumber, Ricky Nugraha selaku pemakalah dan Moderator diskusi oleh Deni Sugandi.

Tiga lebih menjelang pukul empat, partisipan telah hadir. Tanpa upacara potong pita peresmian, semuanya mengalir lancar. Deni Sugandi mengantarkan titik fokus diskusi, memaparkan latar bentuk persoalannya. Kemudian disambung Ricky N, menjelaskan kronologis “gugatannya” pada blog Sutanta Aditya Lubis, yang ia tuduhkan sebagai plagiat. Karya fotografi yang kemudian menjadi pemenang pertama dalam kategori umum, pada Binus International Photo Contest. Sudah seharusnya, karya ini hadir diruang publik, maka publik pula lah yang mengadilinya.

Plagiat menurutnya

Dua foto yang nyaris sama, bila dilihat dari bentuk dan gayapemotretan. Dua anak, dengan menggunakan lensa lebar, memenggal separuh kepala anak tersebut. Point of interest gambar ini bukan anak tersebut, tetapi informasi yang terkandungnnya, lingkungan dalam gambar ini menjelaskan, sama-sama sebuah produk perang; James Nachtwey menjelaskan kehancuran sebuah kota di Central Grozn di Checnya tahun 1996 (Dengan judul Ruins of Central Grozn), sedangkan karya Sutanta Aditya Lubis memaparkan “perang” himpitan ekonomi di pinggiran kota. Bila disandingkan, dua foto tersebut memang terlihat sama, baik itu pemilihan sudut pengambilan-dari atas, perspektif yang dihasilkan dari efek lensa lebar atau menghadirkan kepala anak separuh, sehingga si pemotret bisa leluasa mengeksplorasi latar pendukung yang mewakili kekuatan anak tersebut. Ide dan gagasan sama, namun maknanya bisa berbeda.

Dari argumentasi inilah, Ricky Nugraha menuduh keras, Sutanta Aditya Lubis jelas sebagai plagiat. Berikut cuplikan dalam blog yang dimuat (kemudian dihapus oleh Sutanta Aditya Lubis)

http://pixelet.multiply.com/photos/album/22/ACCESS_TO_HEALTH_The_winner_of_IPC_2010-General_Category

rickywinky wrote on Jun 4, edited on Jun 4

Saya masih punya salinannya kok. Ini sebagai respek saya terhadap kamu.
Saya masih butuh banyak keterangan dari kamu, tetapi kamu malah mengelak. Diskusi ini sehat bagi banyak orang, walau menyakitkan kamu, panitia IPC, juga juri binus yang katanya terhormat dengan peralatan canggih. Kamu itu korban merangkap pelaku pada sistem lomba foto yang berlaku. Salam.

rickywinky wrote on May 29
foto ini plagiasi dari foto James Nachtwey “Chechnya, 1996 – Ruins of central Grozny” . Coba kamu cek dihttp://www.jamesnachtwey.com/ . Foto ini dikategorikan plagiat karena anda menang lomba, dan foto ini tersebar ke publik sebagai juara. ANda sangat ceroboh dan sengaja melombakan foto ini. Juri IPC 2010 juga lebih ceroboh lagi.

Seharusnya anda malu menjadi plagiat, karena walau fotografi adalah seni mekanis-elektris, tetapi plagiasi tetap perilaku tidak terpuji.

cek deh di blog saya:http://6ix2o9ine.blogspot.com/2010/05/plagiat.html

pixelet wrote on May 30
Apa menurut kamu definisi dari plagiat? ketika nama kamu hadir di dunia ini, sama dengan nama kakek ku yang berumur lebih tua dari kamu. Apakah orang tuamu juga disebut plagiat?
Kemiripan karya yang tercipta dengan spontan bukanlah sebuah plagiat.
Aku harap kamu bisa lebih belajar dari pengalaman kakek ku yang memiliki nama yang sama dengan mu.
Thanks atas masukan klise mu.

rickywinky wrote on May 30, edited on May 30
plagiat meniru ide, menjiplak ide orang lain mentah-mentah dan mengaku bahwa ide orang lain, karya orang lain yang diimitasi sebagai karyanya sendiri. menurut saya, menjadi masalah saat kamu mengikutsertakan ke lomba dan menang. tentu bukan 100 persen kesalahan kamu, tetapi jurinya juga tidak punya wawasan.

kamu adalah penggemar james nachtwey. saya tahu itu. tidak mungkin karya spontan. semuanya sudah kamu pikirkan sebelum memotret. kamu sudah punya konsep dari fotonya Nachtwey, yang kamu jiplak dengan sangat mirip.

sorry, masalah namaku tidak bisa disamakan dengan plagiasi atas nama kakekmu. soalnya namaku tak pernah ikut lomba…

salam fotografi. ini hanya kritik membangun. lagipula saya tidak ikut lomba seperti itu. saya terlalu miskin untuk membeli kamera apalagi hanya untuk menjiplak karya orang.

pixelet wrote on May 31
Salam,
Cara berbicara mencerminkan watak si pembicara, kenapa kamu yakin saya adalah penggemar James Nachtwey? Opini 1.

Kalau ternyata naluri memotret saya, baik itu momen atau makna yang disampaikan oleh foto tersebut sama dengan nalurinya, apakah itu disebut plagiat? Opini 2.

Dipertegas, pemikiran angle foto itu terlintas ketika saya menemukan derita yang dirasakan objek yaitu sakit mata yang mengakibatkan pembengkakan pada bagian mata kanannya.

Secara spontan artinya, ide pengambilan foto itu keluar dengan waktu yang singkat sebelum si objek beranjak dari tempatnya.

Beralih ke penyadur, saya bisa saja mengatakan kamu seorang penulis yang suka menyadur tanpa etika. Kenapa? kamu tidak punya hak untuk menyadur karya saya ataupun James Nachtwey…
Apalagi untuk kepentingan pribadi blog kamu….

Soal nama kamu, itu jadi perumpamaan agar kamu bisa berfikir tepat.
Soal kaya atau miskin, itu tergantung relatifitas individu bung.

Saya kenal dengan seorang pemulung yang memiliki penghasilan perharinya sebesar Rp 25 ribu. Kalah dengan penghasilan saya…

Jadi jangan terlalu beropini, nanti malah jadi boomerang…
Terus berkarya, jagan malah jadi ‘No Action Talk Only’….

rahmadsuryadi wrote on Jun 1
Hahaha….mantab dit….terlalu bodoh dan terburu2 dia mengadili karya orang…. tak usah irilah bung…belajar dan bekerja keraslah kamu kalok mau berprestasi seperti sutanta. Baru tau sedikit sudah sok pintar menganalisa karya orang..pakai hati nurani bung….hahahaha…..Bravo…. ….

rickywinky wrote on Jun 1
soal pembelaan, silahkan saja anda yang menjawab. anda yang tahu apakah SUTANTA MENIRU NACHTWEY atau sebaliknya, NACHTWEY MENIRU SUTANTA. Saya hanya melakukan akomodasi simbolik dan bentuk-bentuk visual yang sangat mirip dengan karya NACHTWEY.

buat bung rahmad: saya tidak punya nurani, juga tidak punya kamera. tapi saya tidak pernah jadi plagiat…

rickywinky wrote on Jun 1
masalah menyadur foto Nachtwey: semua materi yang tayang di internet artinya sudah disajikan ke publik. dan saya tidak pernah mengakui karya anda atau nachtwey sebagai karya saya. Opini pribadi di saya dihttp://6ix2o9ine.blogspot.com/2010/05/plagiat.html dilengkapi sumber data yang valid. Ada nama Sutanta, ada nama Nachtwey. Bahkan saya juga mengutipkan sumber darimana asal saya mengutip. Bila harus mengutip kalimat atau memasang foto, saya selalu berusaha menuliskan sumbernya.Saya memang pemulung data, tetapi saya tidak mengakui ide dan konsep orang lain sebagai milik saya. Be a fair Brother… kita hidup di jaman internet. Semua perbincangan bahkan yang paling rahasia pun bisa tersebar di sini. Termasuk bagaimana Sutanta mengutip kalimat Nachtwey di Facebooknya (kalo belum dihapus). Saya yakin Sutanta mengagumi Nachtwey. Bahkan mungkin sangat terinpirasi. Tetapi inspirasi, sangatlah berbeda dengan plagiasi.

pixelet wrote today at 12:02 PM
Waduh bung, sorry untung masih ada waktu 5 menit untuk meladeni opini mu.
Mirip itu kata kamu, kalau kata ku nggak…
Karya ku jelas berbeda dengan James Nachwety… Walau Facebook ku menghargainya James Nacthwey sebagai tokoh fotografer perang.
Ide ku lahir, seperti ibu kamu yang tengah mengandungmu selama 9 bulan. Sebelumnya mereka tak mengkonsep mau bagaimana bentuk wajah kamu, male or female, white or black skin, etc…
Tiba waktunya, kamu pun bisa melihat dunia… Padahal mungkin sebelum kamu lahir, ibu atau ayahmu punya keinginan kalau anaknya lahir nanti mirip Ariel Peterpan. Hanya saja waktu yang membedakan mu dengan kakekku…
Itu Tuhan yang punya kuasa, kita hanya bisa menikmatinya.
Sama seperti proses pemotretan karya diatas, dasar memotretnya karena hati yang tergerak melihat kondisi itu…
Nah seperti yang kamu kerjakan itu, memang terlalu banyak yang harus dikutip. Sampai kamu bingung memilih, ya nggak?
Tapi, hati kecilmu nggak bicara apa? kalau kau hanya jadi penyadur… trus apa opini mu itu benar2 membuat hati senang? jika tidak kamu bisa kena sanksi KUHP loh…karena dari kemarin opini kamu aja yang keluar… sudah itu tidak ada yang comment lagi.

Satu hal, untuk menghasilkan karya itu, aku harus beradaptasi selama dua hari (freedom journalist)… setelah itu baru dapat izin memotret di tempat lumayan kumuh.
Kedua, yang diperjelas dalam caption adalah hasil konfirmasiku dengan objek. Baru aku berani pakai media untuk menyebarkan informasi itu, ya Binus International Photo Contest lah yang memberikan ku kebebasan itu.
Ketiga, kamu mulailah untuk nggak banyak cakap… tapi berbuatlah
Karena kalau kamu mengatakan foto ku mirip dengan yang lain.
Wajahku itu sangat mirip dengan salah satu temanku, apakah mamak kami kau sebut juga plagiasi?
Nggak ada niat bro… untuk memplagiat, selagi aku masih bisa bernafas dan berfikir.
Tapi kalau Tuhan berkehendak, foto itu punya kemiripan? mau bilang apa.
Yang jelas, aku hanya ingin menyampaikan pada dunia… masih ada toh orang yang gak punya KTP… sampai untuk mengobati matanya yang sakit saja, kas negara menagih sertifikasi untuk kelengkapan birokrasi…
Tapi orang kayak kamu membacanya lain>…
Lomba itu hanya kamu akhiri dengan perebutan kekayaan dan prestasi nyata… tapi nggak ada nurani
Caaaaapedeh… ladang ku masih lebar di Sumut ini bos
Oiya… aku kemarin ditawari untuk jadi fotografer media… namanya komat-kamit… tertarik? kamu sepertinya layak disitu.


(bersambung pada tulisan berikutnya. red)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: